FGD Pengembangan SMK Seni dan Kelautan Digelar di Dinas Dikpora DIY

Tim Pengembangan SMK mengikuti Forum Group Discusion (FGD) di Ruang Sasana Wiyata Dinas Dikpora DIY, Rabu (20/10/2019) pagi. FGD ini membahas tentang pengembangan SMK terkait dengan seni dan kelautan. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang Dikmen Dinas Dikpora DIY, Drs. Isti Triasih.

Isti, dalam sambutannya, berharap dalam FGD ini bisa memberikan masukan terhadap pengembangan SMK baik dalam seni maupun kelautan. Ia juga menekankan pentingnya integrasi dalam berbagai bidang untuk mencipatkan SMK yang berkualitas. “Tentu ini semua juga butuh keterpaduan. Ini juga bukan hanya sebatas dari kompetensi SMK kelautan maupun seni, tapi juga terkait dengan teknologi dan juga pariwisata. Ini semua terintegrasi semuanya untuk mengahasilkan SMK yang baik khususnya SMK kelautan ataupun seni,” terang Isti.

Seni industri kreatif di D.I. Yogyakarta, menurutnya, sangat luar biasa baik dari masyarakat maupun siswa. “Tentu untuk siswa ini semua harus kita arahkan dan kita berikan ruang dan wadah untuk mengembangkan itu semua,” harapnya.

Dalam FGD ini, memberikan materi sebagai narasumber Rektor Akademi Komunitas Seni dan Budaya Yogyakarta (AKSBY), Prof. Dr. Y. Sumandiyo Hadi, SST., SU. Sumandiyo menyampaikan materi dengan tema Teks dalam Konteks Pengembangan Profesi Seni Melalui SMK.

Menurutnya, teks dalam konteks substansial ialah melihat kebentukan seni yang diciptakan yang artistik dan estetis lebih kepada intraestetik. “Jadi kalau saya mengajari mahasiswa saya, coba kamu menari, menari itu bergerak dalam ruang menggunakan waktu atau menggunakan waktu dalam ruang, sama saja,” terang Sumandiyo.

Ide atau gagasan diungkapkan dengan ekspresi seni lewat medium keterampilan seni pertunjukan, seni rupa, seni media rekam, dan lain sebagainya. “Seni pertunjukan itu termasuk karawitan, tari, pedalangan, teater, musik. Sementara seni rupa itu lukis, kriya, desain, patung, dst. Kemudian yang seni media rekam itu yang sekarang lagi trend itu berkaitan dengan seni rekam yaitu animasi, televisi, dan fotografi,” jelas Sumandiyo.

Selain itu, Ia juga menjelaskan tentang perlunya pengembangan seni melalui teknologi, misalnya pertunjukan seni dengan teknik teleholografis, teknik multimedia, dan animasi. “Mungkin Bapak Ibu kenal dengan seniman bernama Miroto untuk mengambil S3-nya, ketika itu untuk disertasinya dia menggunakan seni dengan teknologi, yaitu disebut dengan teleholografis,” kata Sumandiyo yang juga sebagai promotor dari disertasi tersebut.

“Teleholografis itu Miroto menari dengan penarinya, itu langsung bisa lihat pertunjukan bersama temannya di Tokyo, Korea, dan yang satu di Los Angeles. Keempatnya langsung bisa ditonton secara bersama untuk ujian. Padahal jamnya semua berbeda. Ujiannya waktu itu di tepi sungai bedog dengan kaca yang besar sekali langsung bisa melihat keempatnya di layar besar itu. Saya yang mengujinya aja ndomblong (menganga),” kisahnya memberikan contoh tentang pentingnya intgrasi antara seni dan teknologi.

Selain Sumandiyo, turut pula memberikan materi Kepala BP3TKI DIY, Suparjo, SH., dan juga Suaidi, S.Pi., M.Sc., Ph.D., dari Departemen Perikanan UGM.




Berita Terkait

Comments (3)

    komentar Facebook sedang dipersiapkan