MUI DIY Gelar Semiloka Pendidikan Islam di Dinas Dikpora DIY

Komisi Pendidikan dan Bina Generasi Muda Islam Majlis Ulama Indonesia (MUI) D.I. Yogyakarta menggelar seminar dan lokakarya dengan tema “Membangun Pendidikan Islam yang Holistik dan Integratif dengan Mengaktifkan semua Komponen Pendidikan yang Ada untuk Menyongsong Masyarakat Madani yang Dicita-citakan” di Auditorium Sasana Krida Dinas Dikpora DIY, Sabtu (26/10/2019) pagi.

Acara ini dihadiri oleh berbagai komponen, diantaranya: penguruus MUI DIY dan Kabupaten/Kota se-DIY; Kanwil Kemenag DIY dan Kemenag Kabupaten/Kota se-DIY; Dinas Dikpora DIY dan Disdik Kabupaten/Kota se-DIY; Perguruan Tinggi Islam; Yayasan Islam dan Pondok Pesantren; serta perwakilan guru, kepala sekolah, dan pengawas Kabupaten/Kota.

Kegiatan ini merupakan agenda rutin dari Komisi Pendidikan dan Bina Generasi Muda Islam yang diselenggarakan sebanyak dua kali setiap tahun pada bulan Mei dan Oktober. Semiloka kali ini akan diisi oleh pemaparan materi dari Dr. H. Sugito, M.Si., Prof. Dr. H.M. Anis, MA., dan Dr. Mujidin, M.Si, serta lokakarya Rencana Tindak Lanjut (RTL) semiloka.

Kepala Kantor Wilayah Kemeneterian Agama DIY, Drs. Edhi Gunawan, M.Pd.I., membuka secara resmi semiloka. Dalam sambutannya, Edhi menyampaikan apresiasi kepada Komisi Pendidikan MUI DIY yang telah menyelenggarakan semiloka ini. “Ini merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan impian dari bangsa kita bahwa dalam rangka menyambut tahun emas kemerdekaan 2045,” kata Edhi dalam paparannya sebelum membuka acara.

Menurut Edhi, impian itu sangat mungkin dicapai karena Bangsa Indonesia saat ini mempunyai bonus demografi. Bonus demografi ialah suatu kondisi dimana komposisi jumlah penduduk yang produktif lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk usia yang tidak produktif.

Sementara itu, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Dinas Dikpora DIY, Didik Wardaya, SE., M.Pd., MM., juga memberikan sambutan mewakili Kepala Dinas Dikpora DIY. Dalam sambutannya, Didik, sapaan akrab Kabid Perencanaan dan Pengembangan Mutu, mengatakan, guru dan praktisi pendidikan mengalami tantangan yang sangat berat di era revousi industr 4.0, bahkan peran guru pun dalam mengajar juga sudah bisa digantikan dengan teknologi informasi. “Dalam dunia pendidikan, kita mengahadapi generasi yang sejak lahir pun sudah dalam lingkungan TIK (Teknologi, Informasi, dan Komunikasi), sedangkan kita semua ini adalah pendatang dalam dunia TIK,” terang Didik.

Sehingga, kata Didik, ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam mengantarkan anak menuju masa depan. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, tentunya juga harus menggunakan cara-cara yang manusiawi.

“Sehingga kita perlu menemukan cara bagaimana pendidikan dan pengajaran agama islam yang menginspirasi rohaniah berbasis hati, yang mampu menguatkan: yang pertama, akidah tentang ke-Esa-an Allah SWT; yang kedua, konsepsi tentang manuasia seutuhnya dalam rangka menjadi manusia unggul, memiliki kompetensi dasar, kompetens mental, dan kompetensi global; dan yang ketiga, menempatkan sejarah masa lalu sebagai guru dalam menyiapkan generasi muda kedepan,” jelas Didik di depan para peserta semiloka yang juga banyak dihadiri oleh generasi milenial ini.

Jika ketiga tujuan tersebut bisa dicapai, lanjut Didik, diharapkan mampu mengantarkan anak menjadi manusia seutuhnya atau insan kamil.

Didik juga berpesan tentang falsah dari Sunan Kalijaga, yakni ojo gumunan (jangan gampang kagum), ojo getunan (jangan mudah menyesali), ojo kagetan (jangan mudah kaget), dan ojo aleman (jangan bermanja-manja). Falsafah itu, menurutnya, memberikan pesan kepada generasi penerus agar menjadi manusia yang adaptif sesuai perubahan zaman dengan berpegang teguh terhadap nilai-nilai agama.

“Untuk mencapai itu, bagaimana para guru bisa menginspirasi siswa selalu berusaha mengembangkan diri, meningkatkan kompetensi, dan keterampilan diri, sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari, dan menghindari kemalasan untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul yang adaptif,” jelas Didik.

Sementara itu, Ketua Umum MUI DIY, Drs. KH. Thoha Abdurrahman, dalam pidato iftitah yang dibacakan oleh Dr. H. Sugito, M.Si., berpesan, berdasarkan QS. An-Nisa’ ayat 9. Dari kandungan ayat tersebut, menurutnya, setiap manusia wajib menurunkan keturunan yang berkualitas dan haram hukumnya kalau sampai menurunkan keturunan yang lemah. Kualitas dan kelemahan tersebut menyangkut 5 hal, yaitu jasmani (kesehatan dan ekonomi), mental, rohani, intelektual, dan akhlak. Untuk menghindari kelemahan tersebut perintah Allah ada dua, yakni bertaqwa kepada Allah dan melakukan pendidikan dan pengajaran yang tepat (qoulan sadiidan). Dan tujuan pendidikan yang pokok adalah pendidikan akhlak menjadi anak yang sholih.

Maka, menjadi kewajiban orang tua lah untuk mengarahkan anaknya dalam memilih sekolah yang tepat yakni sekolah yang dapat mengantarkan 5 kualitas yaitu jasmani, mental, rohani/agama, intelektual/kecerdasan, dan akhlak.




Berita Terkait

Comments (3)

    komentar Facebook sedang dipersiapkan