Kepala Dinas Dikpora DIY, Drs. R. Kadarmanta Baskara Aji, mengajak kepada para generasi milenilal untuk menjadi pemenang dalam menghadapi tantangan zaman. Generasi pemenang ialah bukanlah generasi yang kuat tetapi generasi yang adaptif terhadap perubahan. Hal itu diungkapkan Aji, sapaan akrab Kepala Dinas Dikpora DIY, di Fakultas Psikologi UGM, saat menjadi narasumber dalam acara Intertional Short Course “Social and Cultural Psychology on Health and Education from Theory to Practice”, Jumat (18/10/2019) sore.

Termasuk zaman sekarang, kata Aji, generasi milenial juga harus menyesuaikan diri dengan revolusi industri 4.0 . Revolusi industri 4.0 ialah tergabungnya sejumlah teknologi dalam satu kesatuan (manufaktur, telekomunikasi, transportasi, dll). Ciri teknologi kunci yang membentuk 4.0 dalam abad 21 ini, jelas Aji, menukil dari pendapat Ketua Eksekutif Forum Ekonomi Dunia, Klaus Schwab ialah semua benda terhubung dengan internet, segala sesuatu berbasis internet, kendaraan serba otomatis, kecerdasan buatan, human machine interface, robot dan sensor, komputasi awan untuk data raksasa, drone, cetak tiga dimensi, dan teknologi nano.

Oleh karena itu, lanjut Aji, generasi milenial harus mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan abad 21 era revoulsi industri 4.0 ini agar mempunyai kemampuan yang dibutuhkan, diantaranya:  kepemimpinan, literasi digital, komunikasi, kecerdasan emosional, entrepreneurshipgloblal citizenship, kemampuan menyelesaikan masalah, dan kerja sama tim.

“Kalau masih ada yang one man show, itu pasti organisasinya kurang bagus. Sebaik-baiknya kita melakukan sesuatu, jika one man show tidak akan baik,” terang Aji menjelaskan tentang pentingnya kerja sama tim.

Aji mencontohkan hewan bangau. Bangau itu kalau migrasi dari satu tempat ke tempat yang lain yang jauh pasti membentuk formasi huruf V, yang ujung lancipnya di depan. “Ternyata itu ada kerja sama yang erat antar satu dengan yang lain. Yang paling berat itu ada di yang paling belakang, tetapi yang memimpin yang tahu jalan itu yang paling depan,” kata Aji.

Kepakan sayapnya pun, terangnya, juga akan berbeda antara lapisan satu dengan lapisan lainnya. Itulah kerja sama tim, dengan yang paling depan yang paling keras dalam mengepakkan sayap untuk menembus angin. Kalau ada bangau yang sakit pun, dia akan turun ke daratan dengan ditemani 2 bangau untuk beristirahat sejenak. Setelah bugar kembali, barulah mereka melanjutkan perjalanan dengan menyusul rombongan.

Selain itu, Aji juga menjelaskna tentang kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibutuhkan dalam era revolusi industri 4.0. Kualitas yang dibutuhkan ialah meliputi: kualitas dasar, kulaitas instrumental, kualitas kebangsaan, dan kualitas global.  Kualitas dasar meliputi: daya pikir, daya hati, dan daya fisik. Kualitas instrumental meliputi: penguasaan Iptek, digital, entrepreneurship,  seni, dan olahraga. Kualitas kebangsaan meliputi: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Dan kualitas global meliputi: diplomasi, SDM, kepemimpinan, dan kolaborasi.

Salah satu yang paling penting, menurut Aji, adalah diplomasi. Bagaimana menjalin kemitraan dengan berbagai pihak. “Bicara tentang diplomasi itu ialah bicara tanpa emosi, bicara tanpa muncul kepentingan yang nyata,” jelas Aji kepada 31 peserta yang mengikuti International Short Course sejak tanggal 16-20 Oktober 2019 ini.

Menurut Aji, dalam era revolusi industri 4.0 ini, tidaklah cukup bagi generasi milenial hanya cukup dengan modal literasi lama (membaca, menulis, dan matematika) sebagai modal untuk berkiprah di masyarakat. Dibutuhkan juga literasi digital untuk mengahadapi tantangan zaman, diantaranya: literasi data, literasi teknologi, literasi manusia, dan literasi finansial.

Literasi data ialah kemampuan untuk membaca, analisis, dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital. “Zaman saya kuliah dulu bisa menggunakan SPSS itu sudah gaya, tapi sekarang sudah banyak menggunkana berbagai aplikasi,” jelas Aji.

Literasi teknologi ialah memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi. “Jadi kita jangan hanya jadi pemakai, tapi awal mulanya kita juga paham betul,” katanya.

Literasi manusia berfungsi di lingkungan manusia, meliputi humanisme, komunikasi, kreativitas, dan desain. Kemudian literasi finansial ialah kemampuan untuk mengahsilkan uang, mengelola uang, informasi investasi, dll.

Aji juga menjelaskan tentang modal generasi tangguh untuk mengahadapi era revolusi industri 4.0 berdasarkan falsafah jawa yang masih sangat relevan untuk diterapkan pada era sekarang ini. Diantarannya falsafah dari Sunan Kalijaga; ojo gumunan (jangan gampang kagum), ojo getunan (jangan mudah menyesali), ojo kagetan (jangan mudah kaget), dan ojo aleman (jangan bermanja-manja).

Ada juga falsafah dari Sri Sultan HB I, ialah greget, sawiji, sengguh, ora mingkuh (konsentrasi, semangat, percaya diri, rendah hati dan tanggung jawab). Juga ada falsafah dari Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yakni ngerti, ngroso, ngakoni, dan niteni, nirokke, nambahi.

“Generasi milenial jangan sampai menjadi generasi yang Quitters, yakni diam tak melakukan apa-apa dan menerima kenyataan. Juga jangan menjadi generasi Campers, yakni mencoba, kelelahan, dan berhenti. Tapi jadilah generasi Climbers, yakni terus bergerak, mendaki, dan mencapai kesuksesan,” tutur Aji memberi motivasi kepada para peserta yang terdiri dari berbagai universitas ini.