Kegiatan

0 komentar
SEMINAR SERI “AMBUKA RARAS ANGESTI WIJI”
blog

Ambuka Raras Angesti Wiji merupakan sebuah candrasengkala, penanda tahun diresmikannya Pendapa Agung Tamansiswa oleh Nyi Hadjar Dewantara di tahun 1938. Maknanya diartikan sendiri oleh Ki Hadjar Dewantara dengan “Kesenian sebagai Pepucuk Pendidikan”(Hal. 355 Buku Pendidikan). Pepucuk bisa dimaknai juga melandasi (makalah DR Sri Ratna Saktimulya, 2018). Candrasengkala itu dipahat dengan sangat tegas di anak tangga pendapa.

Fakta yang ada, terjadi ketidakseimbangan olah intelektual dan olah rasa dalam sistem pendidikan kita. Membawa ke bukti-bukti bahwa saat ini warga netizen dari Indonesia diberi label sebagai netizen yang tdak sopan. Radikalisme masih merajalela. Dari anak-anak sampai dewasa tergerus rasa kebangsaannya. Watak asli kecintaan pada budaya sendiri tergantikan dengan kecintaan pada budaya bangsa lain. Perilaku kita menjurus hanya sebagai pengikut (follower) bangsa lain. Belum lagi kriminalitas anak hingga remaja yang memprihatinkan, baik fakta kejahatan jalanan hingga perbuatan asusila. Belum kecerdasan intelektual yang membawa orang dewasa cerdik pandai tidak terjaga olah-hatinya. Berita pejabat bergelar profesor doktor tetap korup, intelektual melakukan penipuan berbasis investasi digital, bahkan berkedok agama. Ini semua fakta-fakta bahwa fungsi kecerdasan dimanfaatkan untuk ‘memintari’ orang lain. Orang cerdas sekolah tinggi, tetapi kehilangan ‘hatinya’.

 

Ki Hadjar Dewantara seratus tahun yang lampau telah memikirkannya. Untuk menjaga watak dasar manusia Indonesia agar senantiasa KONSENTRIS dengan kepribadian diri dan bangsanya, telah digariskan pendidikan kebhinnekatunggal ikaan bersumber dari bahasa ibu serta kesenian lokal daerah. Kebijakan ini diberikan untuk anak-anak usia dini (3,5 s/d 9  tahun, Kelas 3 SD ke bawah) sebagai masa memberi landasan, atau masa menyiapkan wadah. Karena beliau sadar benar akan badai budaya luar yang dahsyat akan menerpa anak di masa-masa berikutnya saat penanaman KONVERGEN-KONTINYU menjadi acuannya. Tergerus jelas, namun sebagai wadah dasarnya tak akan hilang watak KONSENTRISnya. Hal inilah yang menepis kekhawatiran bahwa pendidikan bahasa ibu dan kesenian lokal akan menjelma kelak ke arah superioritas daerah. Justru sebaliknya, berbagai penanaman watak sesuai kearifan lokal daerah itu akan mewujudkan dalam proses natur ke kultur berupa rekaman kebersamaan, kegotongroyongan, bersosial dengan anak yang lain, watak-watak toleransi mendasar.

Apalagi proses ini sengaja dilakukan beliau di masa usia anak jiwanya pertama kali terbuka, dan merekam segala sesuiatunya yang akan diingat seumur hidupnya. (Sumber : Buku Pendidikan, Ki Hadjar Dewantara, Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa)

 

Bagi seorang Ki Hadjar Dewantara, pendidikan kesenian dimanfaatkan fungsi keindahan dan kehalusannya serta kedekatannya pada proses kebudayaan. Kesenian bagian dari kebudayaan yang paling lekat dengan jiwa manusia. Teori Sastra Gending Sultan Agung hingga Anthroposophie Euryhtme nya DR Rudolf Steiner serta teori gerak tarian Dalcroze sebagai cara mendidik jiwa seseorang, diserap beliau saat dibuang di negeri Belanda. Dalam tulisan-tulisan beliau, banyak sekali merangkum fungsi seni sastra, seni suara/gending, seni tari, seni drama/tonil bahkan gabungan-gabungan dari kesenian yang dijelaskan sedemikian gamblang akan fungsi-fungsinya di dalam mendidik jiwa/hati. Juga perlu dicermati pemilihan jenis-jenis sumber kesenian yang bisa dipakai sebagai sarana mendidik hati.

 

Tempat pelaksanaan seminar di Hotel Cokro Kembang Jl. Kaliurang No.6 Yogyakarta pada hari SABTU, 4 Juni 2022 pukul 08.00 s/d 12.00 WIB dengan peserta berjumlah 120 orang (dengan panitia & narsum) yang berasal dari berbagai kalangan dan jabatan di lingkungan pendidikan dan kesenian, pejabat Kementrian, Pemda, Sekolah, Komunitas, Budayawan, Seniman & Umum

 

diagram pola hasiL

 

HASIL DOKUMENTASI




0 Komentar

Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!

INFORMASI TERKAIT

Kirim pertanyaan, saran, dan masukan anda kepada kami