Detail Publikasi Berita

0 komentar
WORKSHOP 10 OBYEK KEBUDAYAAN SEBAGAI METODE SARISWARA TERINTEGRASI DENGAN MATA PELAJARAN UMUM
blog
Keterangan & diskripsi gambar

Menyongsong satu abad kelahiran Perguruan Tamansiswa sebagai salah satu pilar Keistimewaan Yogyakarta, menjadi kewajiban kita semua untuk menjaga kelestarian ajaran-ajarannya. Ki Hadjar Dewantara sebagai pendiri sekaligus ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional, memiliki sistem pendidikan yang sangat khas. Beliau dengan jelas dan gamblang menuliskan bahwa pendidikan memiliki tujuan untuk meluhurkan kebudayaan bangsa. Untuk mencapainya diperlukan manusia-manusia berwatak luhur. Dan ini bisa dicapai bila kita memiliki sistem pendidikan yang asli milik kita sendiri, bukan tiruan sekaligus bukan pengekor dari bangsa lain. Dari kemandirian inilah bangsa kita baru bisa dikatakan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bahan-bahan pendidikan memakai materi lokal dari obyek kebudayaan di masing-masing daerah. Ini disampaikan oleh beliau agar kita mampu mendidik rasa “kebhinneka-tunggal-ika” an sejak usia dini sebagai landasan persatuan bangsa yang kuat. Hal ini senada dengan yang disampaikan Proh. HAR Tilaar : ”Kita terus mencari tapi lupa menggali apa yang kita punya. Kita butuh pendidikan yang 'made-in' Indonesia, yang berdasarkan Kebudayaan dan nilai-nilai Pancasila”

A. Nama Kegiatan

Kegiatan ini adalah Pendidikan Berbasis Budaya Sub Kegiatan Pembinaan Muatan Lokal (Workshop 10 Obyek Kebudayaan Sebagai Materi Metode Sariswara Terintegrasi dengan Mata Pelajaran Umum) Tahun 2022.

B. Kegiatan

  1. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 22 s.d 25 Maret 2022 bertempat di Grage Hotel Ramayana. Jalan Sosrowijayan no 33 Yogyakarta
  2. Peserta berasal dari guru, siswa, mahasiswa dan pamong Ibu pawiyatan
  3. Materi dan Metode Penyampaiannya :
  • Konsep Workshop memakai metode Tri-NGA, Ngerti (Memberi Materi), Ngrasa (Peserta Diikutkan Terlibat           Semangatnya) dan Nglakoni (Peserta Berperan Aktif Menyusun Kreatifitas Implementasi Metode).
  • Hari ketiga pemaparan Simpul Metode Sariswara sebagai Metode Implementasi sekaligus praktek penyusuna langkah-langkah kerja (Ngerti-Ngrasa-Nglakoni).
  • Hari kedua berupa pemaparan Materi Bagian-bagian dari 10 Obyek Kebudayaan (Ngerti-Ngrasa).
  • Hari pertama membuka pikiran dan blocking-mental serta menanamkan semangat perubahan kebudayaan diri pribadi yang berkemajuan (Ngerti-Ngrasa).
  • Hari keempat peserta akan diberikan angket google form untuk evaluasi dan asesmen.

C. Tujuan

    Tujuan yang diharapkan dari Workshop 10 Obyek Kebudayaan Sebagai Materi Metode Sariswara Terintegrasi dengan Mata      Pelajaran Umum adalah :

  1. Mengembalikan kesadaran para pamong di Ibu Pawiyatan (Tamansiswa Yogyakarta) akan pentingnya mereka untuk menjaga ruh ajaran asli dari Ki Hadjar Dewantara.
  2. Menanamkan di bawah sadar mereka semangat untuk bangkit dan berjuang kembali dengan lebih kuat.
  3. Memberi pemahaman baru bahwa kesenian bukan sekedar untuk pertunjukan namun mampu menggabungkan pula dengan kemajuan teknologi digital (seni rupa, desain grafis, video dan audio

D. Hasil Yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah :

1. Membuka Wawasan dan Blocking Mental

Workshop ini akan berfokus ke upaya mengembalikan kesadaran para pamong di Ibu Pawiyatan (Tamansiswa Yogyakarta) akan pentingnya mereka untuk menjaga ruh ajaran asli dari Ki Hadjar Dewantara. Menanamkan di bawah sadar mereka semangat untuk bangkit dan berjuang kembali dengan lebih kuat. Dalam porsi awal ini akan dihadirkan para narasumber yang berkompeten serta berpengalaman dalam pemberdayaan sumber daya manusia.

2. Memahami Obyek Kebudayaan

Sesi hari kedua ini peserta akan diberi masukan terkait pemahaman nilai-nilai yang ada dibalik obyek kebudayaan. Pemahaman ini diarahkan agar mereka bisa menyerap inti dari makna terebut dan membuat kreasi metode yang diinginkan, sesuai dengan bidang pelajarannya masing-masing. Materi obyek kebudayaan diambil dari tata nilai lokal khas Yogyakarta yang dipilih dari kajian konsepsi kepemimpinan Asthabrata, Perwatakan dan Cerita Tokoh Wayang, serta Dongeng Legenda dan Nilai dalam Relief-relief Candi.

3. Memahami Metode Implementasi dan Prakteknya

Peserta menemukan kaitan antara pemaknaan ulang obyek-obyek kebudayaan yang diimplementasikan dalam pelajaran keseharian dalam metode khas Sariswara sesuai gagasan Ki Hadjar Dewantara. Metode yang memanfaatkan kesenian yang ditegaskan Ki Hadjar Dewantara untuk pendamping pendidikan intelektual sekaligus dikembangkan dalam sebuah blended-learning dengan mata pelajaran reguler. Metode cara mengajar. menyampaikan materi pelajaan umum yang berbasis pada kesenian dengan menyerap obyek kebudayaan akan menciptakan keunikan cara belajar yang menyenangkan dan mampu mendidik cipta-rasa-karsa sang anak. Ini terkait erat dengan fungsi seni bukan untuk menjadikan anak kelak sebagai seniman, namun diambil fungsi keindahan dan kehalusannya mendidik hati. Memberi pemahaman baru bahwa kesenian bukan sekedar untuk pertunjukan namun mampu menggabungkan pula dengan kemajuan teknologi digital (seni rupa, desain grafis, video dan audio).

4. Kegiatan ini diakhiri dengan upaya instruktur membimbing para peserta menemukan susunan proses penciptaan karya kreasi menghubungkan obyek kebudayaan melalui metode Sariswara dalam konten mata pelajaran umum.

 

Dokumentasi

https://seabadtamansiswa.files.wordpress.com/2022/04/276166150_5619109324772114_3816404958280279544_n.jpg?w=1024

https://seabadtamansiswa.files.wordpress.com/2022/04/277301794_5619108474772199_8037600484638512335_n.jpg?w=1024

https://seabadtamansiswa.files.wordpress.com/2022/04/276077507_5623591104323936_6382787117421300613_n.jpg?w=1024

 

 

 

 

                               

 

 

 

 

 


0 Komentar

Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!

BERITA TERKAIT

Kirim pertanyaan, saran, dan masukan anda kepada kami